Prosesi Maulid Adat Masyarakat Bayan: Menjaga Warisan Masjid kuno semokan*

Oplus_131072

Oplus_131072

*Prosesi Maulid Adat Masyarakat Bayan: Menjaga Warisan Masjid kuno semokan*

NTB  tribum-tv.com Maulid adat adalah salah satu tradisi budaya yang masih dijaga masyarakat adat di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Puncaknya dilaksanakan di Masjid Kuno Semokan, namun jauh sebelum hari H, dua dusun di Wet Bayan sudah memulai rangkaian ritual: Dusun Segenter dan Dusun Dasan Gelupang.

Oplus_131072

Bagi masyarakat adat Bayan, Maulid bukan sekadar peringatan kelahiran Nabi. Ini adalah bentuk syukur, kebersamaan, dan penguat identitas yang diwariskan turun-temurun.

Persiapan di Dusun: Menutu dan Merantes
Beberapa hari menjelang keberangkatan, kedua dusun melaksanakan kegiatan yang sama di wilayahnya masing-masing.

*Menutu atau Menumbuk Padi*
Di Dusun Dasan Gelupang dan Dusun Segenter, masyarakat berkumpul untuk menutu. Padi yang akan ditumbuk tidak langsung dimasukkan ke lesung. Tradisi dimulai oleh _Inan Menik_, tokoh perempuan adat, yang terlebih dahulu memegang dan memasukkan padi ke dalam _rantok_. Setelah itu barulah kegiatan dilanjutkan.

Rangkaian _menutu_ diiringi _merantes_ oleh kaum laki-laki. Mereka menumbuk padi menggunakan _anggu_ atau lesung secara bergantian dengan irama. Bunyi lesung yang beradu menjadi tanda bahwa persiapan sudah dimulai.

*Tunang Grantung dan Pinangin Gerantung*
Di waktu yang bersamaan, Pembekel Adat Dusun Dasan Gelupang juga melaksanakan _tunang grantung_. Setelah itu dilanjutkan dengan acara _pinangin gerantung_ yang dilakukan bersama oleh Pembekel Adat Dasan Gelupang dan Dasan Segenter. Ini adalah bentuk musyawarah dan penyatuan niat sebelum berangkat bersama.

Hasil padi yang ditumbuk pada malam itu nantinya akan dibawa sebagai bekal dan persembahan.

Perjalanan Menuju Masjid Kuno Semokan
Keesokan harinya, masyarakat adat dari Dusun Dasan Gelupang dan Dusun Segenter berangkat menuju Masjid Kuno Semokan. Beras hasil _menutu_ dibawa menggunakan kuda. Kuda yang digunakan ini oleh masyarakat adat disebut _pondong Menik_.

Perjalanan tidak dilakukan dalam diam. Rombongan diiringi suara _grantung_ dan _klentangan_, dengan berjalan melewati _rurung agung_, jalan utama adat.

Dalam perjalanan, rombongan dari Dasan Gelupang memiliki tiga titik persinggahan wajib yang disebut _sembulan_:

1. *Sambik Pengentengan*
Persinggahan pertama di dekat Kampung Adat Sembagek. Di titik ini rombongan berhenti untuk menabuh _grantung_ sebagai tanda penghormatan.
2. *Pawang Baban Kuta*
Sebelum memasuki kawasan ini rombongan juga singgah dan menabuh. _Baban_ bermakna pintu, dan _kuta_ bermakna dinding atau pagar. Penabuhan di sini melambangkan izin untuk masuk.

*Sesengger di Pinggiran Pawang Semokan*
Sebelum masuk ke Pawang Semokan, di pinggirannya dibuat tanda yang disebut _sesengger_. Setelah menabuh _grantung_ di depan _sesengger_, barulah perjalanan dilanjutkan.

Penyambutan dan mendaup
Sesampainya di wilayah Semokan, rombongan disambut oleh masyarakat adat dari berbagai wilayah: Lendang Jeliti, Lendang Setinggi, Lendang Berdiri, Terbis, Goar, Seleah, Segenter, Dasan Gelupang, Langkang Koq, hingga Dasan Tereng dan Gunjan Sari.

Sebelum memasuki area Masjid Kuno Semokan, seluruh rombongan berhenti di aliran sungai. Di sini mereka melakukan _mendaup_, yaitu mencuci muka sebagai bentuk penyucian diri sebelum masuk ke kampung masjid.

Makna di Balik Prosesi
Setiap tahapan dalam Maulid adat Bayan memiliki makna. _Menutu_ melambangkan kerja gotong royong. _Inan Menik_ yang memulai menandakan peran perempuan sebagai penjaga awal. _Grantung_ dan _klentangan_ adalah penanda spiritual perjalanan. Sementara tiga _sembulan_ adalah bentuk adab kepada tanah, pintu, dan batas wilayah suci.

Hingga hari ini, prosesi ini tetap dijalankan apa adanya. Tidak ditambah, tidak dikurangi. Karena bagi masyarakat adat Bayan, menjaga prosesi berarti menjaga jati diri.ujarnya

(Sabdanom)